Wilmana, the Vehicle of Dewa

Pe milu pe ketena nerru, mola ta pe kako toi-Tegap berjalan maju, lurus menuju tujuan

Mama Ambel Risiko Berbohong

Soerang mama, pasti pernah berbohong. Apakah dia tidak tau berbohong itu, dosa?  Tida juga.  Tapi janga lupa bahwa setiap orang yang berbohong, tentu ada alesannya, termasuk mama.  Kalau kita bisa mengetahui hal ini, mungkin posisi kita terhadap Pelaku kebohongan bisa lebih wajar.  Cobalah simak kutipan catatan tentang daftar kebohongan yang lasim diperbuat mama berikut alasan yang mendasari beliau nekat melakukan perbuatan terlarang ini. Kutipan ini beta ambil dari postingan seorang sahabat di milis GPIB.

Saat makan, jika makanan kurang, mama akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, “Cepatlah makan, mama tdk lapar.”

Saat makan, mama selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, “mama engga suka ini, makanlah, nak..”

Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, mama berkata, “Istirahatlah nak, mama masih belum ngantuk..”

Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, dan mengirimkan uang untuk mama. Ia berkata, “Simpanlah untuk keperluanmu nak, mama masih punya uang.”

Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, mama lantas berkata, “Rumah tua kita sangat nyaman, mama tidak terbiasa tinggal di sini.”

Saat menjelang tua, mama sakit keras dan si anak menangisinya, tetapi mama masih tersenyum sambil berkata, “Jangan menangis nak, mama tidak apa apa.”

 

Ini contoh bukan untuk pembenaran terhadap praktek kebohongan apalagi kebohongan publik yang marak dipraktekkan oleh aparat negara kita, baik itu Eskekutif, Legislatif, maupun Yudikatif.  Kebohongan, apapun bentuknya, tetaplah merupakan perilaku yang tidak pantas dan tidak patut ditiru, bahkan di level tertentu kebohongan dapat dianggap perbuatan melawan hukum.

Kutipan ini sekedar untuk mengingatkan kita bahwa disaat kita harus mengambil sikap terhadap suatu kebohongan, kita perlu mengetahui apa saja yang mendasari perbuatan tersebut, agar keputusan kita untuk bersikap terhadap Pelaku kebohongan tersebut, bisa lebih wajar (fair).

Juli 9, 2011 Posted by | Words of Wisdom | 2 Komentar

Di Langit Mama Bersua Kekasihnya

Di langit Dia Bertemu sang Kekasih

=0=

Rabu, 30 April 2008 aku bertanya…

Oma pergi menyusul di langit sana hanya dua minggu setelah Opa pergi…

Mama kira-kira bisa bertahan berapa lama?

Jawabannya hanya SENYUM……. penuh arti…

=o=

1 Desember 2008, dia datang…

“Mau natalan di Jawa”, begitu kira-kira  jawabnya

25 Desember 2008, datanglah natal yang dinanti

Dinanti di bangsal E kamar no 5 RS PGI Cikini

Bukan cuma natal di situ, tp juga melewati 2008 dan memasuki 2009

-0-

Apakah ini malapetaka atau berkah, siapa yang tau?

2 Januari 2009 pukul 08.42 dia memilih jejak Oma…

Menyusul Papa yang sudah menanti sejak 23 April 2008

Di langit sana…

-o-

Dia orang Jawa bilang, “Aku ketiban  pulung”

Ya ketiban pulung…. karena masih ada begitu banyak

kekecewaan

harapan

uneg-uneg

tak tersampaikan di antara kami…

-o-

Ketika mereka bersyair, “Bunda kata mereka diriku selalu ditimang, diriku selalu dimanja”

Siapa menimang dan memanjakanku?

Ketika dia bernyanyi, “hutang satu tetes air susu mama”

Pada siapa aku berhutang?

Wahai yang punya nama Ligkungan

Dikau memang tidak memandang bulu

Dikau memang tak berperasaan

Teganya kau pisahkan aku dr Bundaku

-o-

Sama juga saat pagi 2 Januari itu….

Sakit penyakit

“multi organ failure”, kata dokter

Memberi jalan Mama pergi menyusul Papa

di langit sana

Penyakit, dikau memang tak punya perasaan

-o-

Tapi

Biarlah sejuta asa-kecewa-uneg2 terkubur bersama jasadnya, atau

Kelak akan kusampaikan nanti

Ketika dia berkunjung dalam mimpi-mimpiku

-o-

Sekarang

Pergilah dikau, Mama, dalam damai sejahtera

Sambutlah uluran tangan kekasihmu

Ikutlah dalam barisan para Kudus

Memuji dan memuliakan Dia sang Juruselamat

Menjadi malaikat bagiku selalu

Yaa… selalu…

-o-

Medio Januari 2009

Januari 15, 2009 Posted by | My Family Affairs | 3 Komentar

MENGEMBANGKAN POTENSI PRIBADI DALAM KARYA NYATA

Pendahuluan

Semenjak awal manusia diciptakan, Allah Bapa telah menempatkan suatu potensi yang membuat manusia memiliki kelebihan dari ciptaanNya yang lain. Potensi yang ada ini telah membuat manusia memiliki kemampuan unik untuk secara bebas bergerak dan berusaha demi meneruskan kehidupannya di dunia. Musa menuliskannya dalam kitab Kejadian bahwa “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kej. 2:15).

Dengan demikian, mengusahakan dan memelihara (bekerja) merupakan perintah Tuhan Allah kepada manusia didalam hidupnya untuk bekerja demi kelangsungan hidupnya dan kelangsungan taman Eden (baca: ciptaan Tuhan yang lainnya). Bekerja merupakan kuasa atau mandat dari Tuhan Allah kepada manusia sebagaimana dapat kita baca pada Kejadian 1:28 yaitu: “Berkuasalah atas ikan-ikan dilaut dan burung-burung diudara, dan atas segala binatang yang merayap dibumi”. Kalimat “merayap di bumi” hendaknya dipahami sebagai yang berjalan atau yang hidup didaratan, termasuk didalam tanah. Karena ciptaan Allah Bapa mendiami daratan, lautan, dan udara.

Jika kita membaca Mazmur 8:6-7, semakin jelas bahwa manusia memang memiliki potensi lebih daripada ciptaan yang lain yaitu:

Allah membuat manusia hampir sama seperti Allah.

Allah telah memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat.

Allah membuat manusia berkuasa atas buatan tangan Allah.

Segala-galanya telah Allah letakkan dibawah kaki manusia.

Dengan demikian, bekerja dan berusaha merupakan tanggungjawab manusia baik atas dirinya, ciptaan Tuhan yang lainnya, dan terhadap Sang Pencipta itu sendiri. Oleh karena itu bekerja, mau tidak mau harus dilakukan oleh manusia selama ia hidup dan menginginkan suatu kehidupan yang layak baik secara jasmani maupun rohani. Dengan bekerja, manusia akan merasakan kebahagiaan dan sukacita tersendiri karena memperoleh hasil dari jerih payahnya. Lebih jauh lagi, dengan bekerja pula, manusia akan belajar untuk tahu mensyukuri anugrah dan berkat Tuhan atasnya, karena melalui bekerja inilah Allah memberkati manusia (Mzm. 127).

Dari penjelasan-penjelasan diatas, jelas bahwa karena Tuhan menghendaki manusia bekerja selama hidupnya, maka Tuhan tidak melepaskan manusia begitu saja. Tuhan menyediakan sarana dan prasaran, serta bahan baku (lahan pekerjaannya) yang bisa dimanfaatkan manusia untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Agar manusia dapat mengusahakan bahan baku dengan menggunakan sarana dan prasarana yang ada maka Tuhan juga melengkapi manusia dengan potensi diri. Potensi diri ini muncul sebagai hasil perpaduan secara spesifik dan proporsional antara tenaga, akal budi, perasaan, dan kepribadian. Setiap orang memiliki persenyawaan unsur-unsur diatas dalam komposisi berbeda-beda. Seperti orang mencampur berbagai warna cat untuk menghasilkan warna baru yang berbeda-beda. Itulah sebabnya dikatakan bahwa setiap manusia memiliki talenta berbeda-beda yang harus digandakan dengan cara bekerja. Talenta tidak akan berguna (berganda) jika tidak diusahakan.

Potensi Diri Pribadi

Setiap orang telah dilengkapi Tuhan dengan potensi pribadi. Tuhan Yesus menyebutnya talenta. Oleh karena itu, sekarang yang penting adalah bagaimana manusia jeli melihat dan mengenal talentanya, mencari lahan yang cocok dan mengusahakannya untuk bertahan hidup melalui karya-karya nyata yang dihasilkannya. Dari sini mulai kelihatan pentingnya potensi diri agar manusia dapat bekerja dan menghasilkan karya-karya nyata bagi hidup dan kehidupannya.

Lalu bagaimana manusia mengenal dan menggali potensi diri pribadinya?

Sejak kecil manusia diajarkan orang tuanya untuk mengenal lingkungan dan kehidupan melalui contoh-contoh dan hal-hal lain yang dilihatnya. Dengan mengenal lingkungan dan kehidupan, manusia bisa menemukan perbedaannya dengan manusia lain. Kelebihan dan kekurangannya, serta minat dan kegemarannya dalam menekuni sesuatu. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah melibatkan Tuhan dalam proses ini. Ingat bahwa Tuhan akan menuntun manusia kepada pengenalan akan potensi dirinya, jika manusia memintanya kepada Tuhan (Mazmur 25:12 & 32:8; Yesaya 58:11; Yakobus 1:5).

Potensi diri ini haruslah dipakai secara optimal karena itulah perintah Tuhan bagi manusia. Mendiamkan potensi diri dengan cara tidak mau bekerja adalah pengingkaran manusia atas perintah Tuhan. Oleh karena itu Rasul Paulus mengatakan:”Jika aku harus hidup di dunia ini, maka itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (baca: Filipi 1:22).

Pengembangan Potensi Diri

Setelah manusia mengetahui potensi dirinya, maka potensi itu harus dikembangkan agar dapat berguna bagi dirinya, sesama, dan Tuhan. Pengembangan potensi ini dapat melalui pendidikan disekolah maupun diluar sekolah, termasuk belajar otodidak dari pengalaman.

Pengembangan potensi ini harus dilakukan sesegera mungkin setelah manusia mengenal siapa dia. Kesulitan terbesar yang dialami saat ini adalah bahwa orang seringkali terlanjur mengembangkan hal-hal yang justru tidak sejalan dengan potensi dirinya. Adapula yang seolah-olah ragu dengan potensi dirinya sendiri. Akibatnya terjadi salah memilih jalur pengembangan potensi diri yang mengakibatkan penyesalan-penyesalan dikemudian hari.

Kesalahan-kesalahan yang timbul akibat terlambat menyadari potensi diri, seringkali dipakai sebagai alasan untuk orang tidak mau berkarya nyata. Padahal, penolakan untuk berkarya nyata adalah suatu pengingkaran terhadap perintah Allah. Rasul Paulus bahkan menulis agar jangan sampai itu terjadi karena barang siapa yang tidak mau bekerja ia tidak usah makan (II Tes. 3:1-15). Keberanian yang dilandasi oleh iman kepada Allah untuk memulai perubahan dalam rangka menyesuaikan diri dengan potensi yang ada, itulah yang dibutuhkan (baca Mat. 16:24).

Dalam pengembangan potensi diri (memilih sekolah, kursus, dsb) dan berkarya nyata apapun bentuknya, manusia perlu membangun hubungan dengan Allah melalui hidup persekutuan dengan Allah, bersandar padaNya, dan mengandalkan Dia saja dalam setiap langkah usahanya (baca: Ams. 3:5-6; 16-18). Membangun hubungan dengan Allah ialah membiasakan diri untuk berdoa meminta tuntunanNya, membaca-merenungkan firmanNya setiap hari, dan mencoba dengan tekun untuk hidup sesuai firmanNya.

Berkarya Nyata

Manusia perlu memulai untuk berkarya nyata sebagai wujud eksploitasi potensi dirinya. Kesesuaian antara potensi diri dengan karya nyata ini diperlukan agar ada rasa cinta dan penghargaan atas karyanya. Karena dengan perasaan itu, manusia bisa tekun dalam berkarya. Ketekunan dalam menekuni sesuatu merupakan kata kunci dalam berusaha. Yakobus saudara Tuhan Yesus sangat menganjurkan ketekunan ini, bahwa ketekunan itu akan berbuahkan keberhasilan (baca Yak. 1).

Siklus dari ketekunan dalam mengerjakan sesuatu kira-kira demikian: Melakukan pekerjaan apa saja yang disukai – menekuninya sampai menguasai benar (terampil) – sehingga bisa dilihat orang – diperhatikan – dibutuhkan – dan akhirnya dicari untuk memenuhi kebutuhan mereka. Usaha seseorang yang ditekuni secara sungguh-sungguh pada akhirnya akan sukses dan berguna bagi dirinya sendiri, juga bagi sesamanya (karena membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain), dan tentu bagi Tuhannya (jika ia tahu bersyukur) (Mzm 126: 5,6).

Ketakutan untuk gagal seringkali menjadi faktor yang menimbulkan kekuatiran untuk berusaha. Padahal bermacam-macam kekuatiran bisa menjadi godaan yang dapat mengendurkan ketekunan dalam berkarya nyata. Ketekunan sama juga artinya dengan “tahan banting”. Anak Tuhan mestinya tahan banting jika dia percaya akan janji Tuhan Yesus bahwa jika burung diudara yang tidak menanam diberi makan, dan jika bunga di padang yang tidak memintal diberi pakaian yang indah, apalagi manusia (Mat. 6:25-34). Anak Tuhan adalah umat gembalaan tuntunan tanganNya. Oleh karena itu yakinlah akan janji Gembala Yang Baik itu, bahwa domba-dombaNya tidak akan kekurangan karena akan dituntun ke air yang tenang dan ke padang yang berumput hijau (Mzm. 23). Ini berarti kuncinya cuma satu yaitu jadilah Anak Tuhan, jangan asal-asalan, apalagi yang mendua hati (masih memakai kuasa-kuasa gelap), yang bisa membuat Tuhan cemburu.

Kesuksesan Di Tangan Tuhan?

Sengaja dibuat dalam bentuk pertanyaan untuk mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah menjanjikan kebahagiaan terus-menerus, tidak juga kesusahan terus menerus. Yang Tuhan janjikan adalah kemampuan untuk mengembangkan usaha dan kekuatan/daya tahan menghadapi kesulitan usaha. Kesuksesan disini lebih diartikan sebagai keberhasilan manusia baik didalam mengembangkan pekerjaan maupun dalam menghadapi kegoncangan pekerjaan/usahanya.. Inilah yang Tuhan janjikan.

Janji Tuhan adalah bahwa kita akan berhasil bila kita selalu dengan tekun menjaga persekutuan kita denganNya. Ketekunan disini dapat berarti setia. Artinya, persekutuan kita dengan Tuhan tidak goyah/terhenti oleh berbagai rupa cobaan dan godaan misalnya: kesibukan, kejenuhan, kealpaan, rasa putus asa, keberhasilan orang lain yang menggunakan kuasa diluar Tuhan, dsb. Tidak pupus oleh hujan dan tak lekang oleh panas. Penulis kitab Ibrani menyatakan jika kita tekun melaksanakan kehendak Allah, maka kita akan memperoleh apa yang dijanjikan itu (Ibrani 11:36).

Apa janji itu dan dimana dapat ditemukan janji Tuhan yang berkaitan dengan usaha dan pekerjaan itu?

Mazmur 1:1-3
Manusia yang kesukaannya adalah membaca dan merenungkan firman Tuhan dengan tekun akan seperti pohon yang ditanam ditepi sungai. Daunnnya selalu hijau dan selalu berbuah sesuai musimnya. Apa saja yang diperbuatnya pasti berhasil.

Kata berhasil hendaknya dipahami sebagai berkat Tuhan atas pekerjaan/usaha orang-orang yang senantiasa bersekutu dengan Tuhan. Firman Tuhan kepada mereka antara lain:

Ulangan 28: 8, 12, dan 13
Tuhan akan memerintahkan berkat keatasmu, didalam lumbungmu, dan didalam segala usahamu; ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan Allahmu (ayat 8).

Tuhan akan membuka bagimu perbendaharaanNya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman (ayat 12).

Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kau lakukan dengan setia (ayat 13).

Tetapi manusia mesti menyadari bahwa bersekutu dengan Tuhan bukan berarti ia terbebas dari kesulitan hidup. Persoalan akan datang melandanya juga, yang bersumber dari:

1. Diri sendiri

a. Dosa yang belum diperdamaikan (Pkh. 5 : 3-5; Ul. 32 : 35; Rm. 6 : 23).
b. Nafsu daging dan nafsu mata (I Yoh. 2:15,16; Mat. 6:22; II Tim. 3: 2-4; Ibrani 13:5).
c. Keangkuhan hidup (I Yoh. 2:15,16; II Tim. 3: 2-4)

2. Iblis (Kej. 3; I Ptr. 5:8).

3. Tuhan ingin menguji iman (Ibrani 12: 5-7)

Dengan demikian manusia memang tidak bisa menghindari kesulitan hidup. Hanya saja, ketika kesulitan hidup melanda, jangan putus asa. Ingat akan janji Tuhan bahwa kepada mereka yang tekun, Ia akan menunjukkan jalan keluar dari persoalan/kesulitan yang dihadapi (I Kor. 10:13).

Kesimpulan Akhir

Bahwa bekerja adalah perintah Tuhan kepada manusia, dan manusia telah dibekali Tuhan dengan potensi diri (telenta)-nya masing-masing agar dapat melaksanakan perintah Tuhan tersebut. Oleh karenanya, manusia perlu meminta Tuhan menuntunnya kepada pengenalan dan pengembangan potensi dirinya, dan dengan itu ia dapat berkarya nyata sebagai wujud tanggungjawab atas dirinya, ciptaan Tuhan yang lainnya, dan kepada Sang Pencipta itu sendiri.

Agar karya nyatanya berhasil dan diberkati, maka manusia memerlukan ketekunan yang dibangun diatas persekutuan dengan Tuhan secara konsisten. Berhasil dan diberkati berarti bahwa Tuhan akan memberi kekuatan baik dalam suka maupun duka, baik dalam masa ‘keemasan’ usaha maupun pada masa ‘kesuraman’ usaha.  A M I N

Desember 3, 2008 Posted by | Iman Kristen dan Prakteknya | 3 Komentar

Refleksi Tentang Mama

Sahabat Pembaca yang saya kasihi, hari ini saya menerima e-mail dari seorang rekan. Isinya bikin saya trenyuh karena mengingatkan saya pada Ibu di kampung.  Asal tau saja, saya ini punya empat orang Ibu.  Mohon maaf, ini bukanlah informasi bahwa ayah saya punya empat istri, tidak!  Sampai meninggalnya bulan April 2008 yang lalu, Ayah saya tetap setia pada satu istri.

Tapi maksud saya adalah, saya ini punya Ibu kandung yang melahirkan saya, juga punya dua orang Ibu asuh yang membesarkan saya, tapi juga karena adat budaya saya memiliki seorang Ibu angkat.  Ceritanya begini:

Ketika saya masih dalam kandungan, dua orang kakak saya meninggal berturut-turut. Ini membuat Ibu saya stress berat dan ketika  saya lahir, beliau terkena sakit maag yang akut dan harus rawat inap di rumah sakit dalam waktu yang lama.  Bisa ditebak, ASI-nya mogok.  Sehingga seumur hidup saya tidak merasakan ASI.  Di rumah saya diasuh oleh Eyang Puteri bersama orang-orang rumah.

Sekali waktu, datang nenek dari kampung untuk menengok cucunya.  Beliau surprise sekali karena rupanya tampang saya mengingatkan beliau pada ayah saya ketika baru lahir di kampung dulu. Singkatnya, karena tampang saya terlalu mirip dengan Ayah, maka ini bisa berdampak buruk bagi saya dan Ayah.  Sehingga menurut adat saya harus dijual kepada seorang kerabat yang berminat untuk menjadi orangtua angkat saya.  Para sahabat Pembaca semua, menurut cerita pada waktu transaksi, saya dibayar dengan satu sisir pisang, satu tandan pinang, dan sekilo buah sirih, serta senampan jajanan pasar. Tentu para sahabat maklum kan, bahwa dengan ini saya akhirnya resmi punya dua orang Ibu. Ibu kandung dan Ibu angkat.

Cerita belum berakhir. Suatu subuh, sehari sebelum nenek kembali ke kampung  terjadi kehebohan. Saya menangis keras dalam waktu yang sangat lama sehingga menarik pehatian sang Nenek.  Beliau menghampiri dan menanyakan kepada Pengasuh (masih tergolong Paman, anak angkat Ayah, bernama Darius Lau Koli), mengapa cucunya histeris berkepanjangan. Singkat cerita, sang Nenek naik pitam karena ternyata Om Darius salah memberi minuman pada cucunya.  Maksud hati memberi susu, tapi apa daya gara-gara ngantuk yang diambil adalah tepung beras. Maklumnya waktu itu, di kampung penerangannya cuma dari lampu teplok.

Sambil terus mengomek, sang Nenek memutuskan sepihak untuk memboyong saya ke kampung. Maka jadilah saya ini manusia beruntung karena dalam waktu tidak berapa lama, sudah menggaet tiga perempuan menjadi Ibu bagi saya. Secara mistik, saya ini harusnya bisa punya daya kesaktian yang berlipat ganda dengan jumlah Ibu demikian banyak.  Tapi, cerita blom berakhir karena ternyata tempat tinggal nenek begitu ‘udik-nya’ sehingga saya ‘dititipkan’ beliau pada Pakde yang tinggal di kota terdekat, karena beliau sering pergi ke pedalaman.  Nah, tentu para sahabat bisa menduga bahwa pada akhirnya saya ketambahan satu orang Ibu lagi yaitu, Bude saya.

Tapi, marilah kita kembali ke laptop. Membaca e-mail kiriman rekan tersebut di atas, saya sungguh baru tersadar pada kenyataan unik bahwa saya punya empat orang Ibu.  Dan setelah direnung-renung, saya ingin mengabadikan e-mail kiriman rekan tersebut untuk ke-empat Ibu saya ini.  Moga-moga bermanfaat juga buat para sahabat semua. Coba simak ini:

ibu melahirkan kita sambil menangis kesakitan. Masihkah Kita menyakitkan-nya?
Masih mampukah kita tertawa melihat penderitaan-nya?
Mencaki maki-nya?
Melawan-nya?
Memukul-nya?
Mengacuhkan-nya?
Meninggalkan-nya?

Ibu tidak pernah mengeluh membersihkan kotoran kita waktu masih kecil,
Memberikan ASI waktu kita bayi,
Mencuci celana kotor kita,
Menahan derita,
Menggendong kita sendirian.

SADARILAH bahwa di Dunia ini ga da 1 orang pun yang mau mati demi IBU, tetapi…..
Beliau justru satu-satunya orang yang bersedia mati untuk melahirkan kita….

Para sahabat semua, harap diketahui bahwa dua dari empat orang Ibu saya sudah kembali ke surga. Satu orang lagi terkulai lemah karena sakit bahkan tidak bisa melihat lagi. Yang masih bisa diajak ngobrol dan bercanda hanyalah Ibu kandungku. Saya trenyuh dengan kenyataan hidup ini. Dulu, saya memiliki empat orang Ibu karena Ibu kandungku terkulai tak berdaya. Sekarang, malah tinggal beliau yang masih tegar menemani hidup saya. Ah, hidup ini memang keajaiban dari Tuhan.

Apakah para sahabat juga merasakannya?

Oktober 6, 2008 Posted by | My Family Affairs | 6 Komentar

PM Fukuda mundur! Kok bisa?

Fukuda Bertindak

Perdana Menteri Jepang Yasuo Fukuda secara mendadak mengumumkan pengunduran dirinya, kemarin (Senin, 01/09/2008).  Dalam sambutannya, Fukuda menjelaskan bahwa sikap ini diambil guna memecah kebuntuan politik yang selama ini terjadi di negeri sakura itu.  Kalo kita trace back record Fukuda, ia memang sudah lama bertentangan dengan pihak oposisi, Partai  Demokratik Jepang, yang mengendalikan majelis tinggi parlemen dan memiliki kewenangan menunda pemilu.

Akhir maret lalu, oposisi mengecam habis keputusan Fukuda yang tetap meneruskan kebijakan pajak bahan bakar minyak yang sudah bertahan selama tiga tahun.  Pertentangan kedua pihak lalu menimbulkan spekulasi bahwa Fukuda bakal diganti lewat pemilu pada bulan September tahun depan.  Dan, meski masih punya waktu satu tahun lagi, tetapi Fukuda berpendapat lain.  Daripada membiarkan stagnasi politik berkepanjangan yang dapat berdampak luas bagi perekonomian negara, ia memilih melepaskan jabatannya. Kita simak kata-kata Fukuda sebagai berikut.

“Jika kita memprioritaskan kehidupan masyarakat Jepang, tidak bisa terjadi kevakuman politik. Hari ini sy memutuskan untuk meletakkan jabatan. Kita  membutuhkan orang-orang baru untuk menanggulangi situasi yang berkembang di parlemen,” demikian Fukuda dalam konferensi pers.

Kok Bisa?

Mungkin para sahabat sekalian bertanya-tanya, apa maksud artikel ini? Apakah saya pingin menyaingi Kompas, Sindo, ato koran-koran sejenis untuk beradu kecepatan merilis berita dunia bagi pembaca?  Ah, tidaklah…

Lalu, untuk apa repot-repot mengekspose berita Fukuda itu, yang bagi orang Jepang bahkan bagi dunia, perilaku para politisi Jepang seperti ini sudah bukan barang baru lagi.  Koizumi yang diganti oleh Fukuda pun mengakhiri masa jabatannya dengan mengundurkan diri.  Nah ini rahasia yang ingin saya buka kepada anda sekalian.

Selama ini saya mengamati, kenapa para politisi Jepang bisa dengan enak, ikhlas, alias legowo meletakkan jabatannya, tapi hal yang sama sangat sulit bahkan mustahil dilakukan oleh para politisi Indonesia.  Banyak Pejabat negara maupun Pejabat pemerintah yang pura-pura tuli atau berlindung pada logika dan proses hukum formal untuk tetap bertahan menduduki kursi jabatannya.

Beberapa waktu lalu, media kita sibuk mempersoalkan Bagir Manan, orang kampus yang lalu menjadi Ketua MA, berkali-kali menandatangani peraturan intern MA yang memperpanjang masa pensiunnya sendiri.  Publik menjadi gerah karena merasa bahwa moralitas peraturan itu tidak lebih dari sekedar mempertahankan kekuasaan.  Seringkali terjadi kecelakaan kereta api, tidak cukup untuk membuat para direksi PTKAI dengan ikhlas melepas jabatannya.  Jika hal ini ditanyakan, maka kita bisa menduga jawabannya yang menyerahkan hal itu kepada Pemegang Saham BUMN itu, dalam hal ini Menteri Negara BUMN.  Menteri Teknis yang membawahi regulasi di industri kereta api, Menteri Perhubungan, juga punya jawaban yang setali 3 uang yaitu, terserah Bapak Presiden.  Persis sama dengan respon Paskah Suzeta dan MS Kaban ketika terindikasi sebagai penerima dana kolusi BI yang saat ini kasusnya sedang disidangkan di pengadilan tipikor.

Seorang sahabat di kantor pernah nyeletuk, “Orang Jepang punya etika sudah jalan.  Beda dengan kita orang Indonesia”.  Bagi orang Jepang, akan lebih memalukan lagi jika diberhentikan oleh sistem karena fakta-fakta hukum yang negatif dan tercatat resmi dalam lembaran (sejarah) negara.  Mengundurkan diri sebelum dipaksa mundur, bagi orang Jepang adalah sikap yang lebih terhormat dan tentu mendapatkan penghormatan dari publik.  Terhormat, karena dengan demikian yang bersangkutan dengan sadar mengurangi terjadinya risiko hukum maupun risiko politik yang tidak saja dapat merugikan martabat dirinya dan keluarga, tetapi juga dapat merugikan rakyat bangsa.

Sikap moral seperti ini yang dikenal dengan istilah keren, ‘responsibilitas’.  Responsibilitas adalah nilai moral yang mengedepankan tanggung jawab moril atas amanah yang diemban.  Tanggung jawab moril ini juga ditemukan dalam format fiduciary duty, tugas yang diemban atas dasar kepercayaan dan dilaksanakan semata-mata atas dasar itikad baik.   Dalam fiduciary duty ini melekat fungsi duty of care (penuh tanggung jawab); duty of diligent (penuh kehati-hatian); dan duty of loyalty (demi kepentingan organisasi/negara/publik).  Meski tugas telah dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian (duty of diligent) namun, ketika kepercayaan itu sudah memudar, maka Pelaksana tugas harus punya keberanian moril untuk demi kepentingan publik/negara, ihklas dan legowo mengembalikan amanah kepada yang berhak.  Karena ini soal kepercayaan, maka tidak perlu menunggu diberhentikan atas dasar fakta-fakta hukum yang otentik.  Karena kepercayaan bukan sekedar perihal hukum tetapi lebih pada perihal etika.

Para sahabat sekalian, beberapa waktu lalu ada pertanyaan yang diajukan oleh seorang adik saya yang waktu itu membuat saya gamang. “Mengapa budaya tidak tau malu di Indonesia bisa berkembang mendekati sempurna?”, demikian adik saya tersebut.   Mencermati fenomena Fukuda ini, saya jadi menemukan jawabannya.  Rupanya sudah lama bangsa kita, Indonesia, mengabaikan nilai responsibilitas ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Kita lebih suka tenggelam dalam budaya ambisius yang tak segan menggunakan cara-cara tidak patut untuk mendapatkan kursi jabatan dan mempertahankannya.  Alasannya, yang penting saya tidak melanggar regulasi apapun, atau secara hukum formal tidak ada bukti perbuatan melawan hukum.

Sepanjang jaman orla, seolah-olah tidak ada orang lain yang lebih layak menjadi Pemimpin daripada Bung Karno. Pada saatnya, bahkan parlemen mengangkat Bung Karno sebagai Presiden seumur hidup.  Suharto sang Penguasa orde baru, baru mau turun setelah situasi politik bangsa hancur luluh.  Gusdur, masih nekat petantang-petenteng di teras istana negara dengan bercelana pendek setelah dipecat oleh parlemen. Dalam ranah berbeda, kita bisa ambil contoh buruknya responsibilitas ini pada sikap para anggota KPU yang ngotot berangkat ke luar negeri sekedar melantik KPLN, menghabiskan puluhan miliar rupiah, padahal ngakunya KPU masih kekurangan dana.

Bagaimana baiknya, yah?

Ok-lah. Saya pun yakin bahwa penjelasan di atas tidak 100% akurat. Esensinya, saya pingin sampaikan bahwa jika orang Jepang bisa hidup dengan nilai responsibilitas, harusnya bangsaku ini juga bisa.  Karena itu pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana kita dapat menumbuhkembangkan nilai responsibilitas ini?

Dalam hukum ada ungkapan, quid leges sine moribus, apa artinya hukum tanpa etika.  Ungkapan ini menggambarkan bahwa hukum dan etika adalah dua sisi mata uang.  Hukum membutuhkan etika sebagai ukuran moralitas, sementara etika membutuhkan hukum sebagai enforcement dalam pelaksanaannya.

Karena itu, perlu ada upaya yang kuat untuk menggunakan nilai responsibilitas ini  sebagai moralitas dalam setiap produk hukum yang terkait dengan sistem rekrutmen Pemimpin dan Pejabat di semua aras lembaga negara maupun organisasi kemasyarakatan.  Setiap Pemimpin, Pejabat, maupun Pengurus mengemban amanah tata kelola oleh karena kepercayaan.  Oleh karena itu, mereka wajib bekerja dengan penuh tanggung jawab dan berhati-hati.  Namun, mereka juga wajib memilih opsi mundur dari jabatan untuk meredakan rumors, atau kemelut politik, yang dapat merugikan organisasi/negara/publik, tanpa menunggu berjalannya (selesainya) proses hukum formal.   Enforcement nilai responsibilitas melalui regulasi seperti ini, jika ditegakkan secara konsisten, bakal menumbuhkan budaya tau malu di kalangan para Pejabat (negara/NGO/swasta/dll).  Mereka ini dapat menjadi suri teladan bagi rakyat dan pada gilirannya kita boleh berharap menjadi tidak beda lagi dengan Jepang dalam hal ini.

Para sahabat terkasih. Sudah lama saya berangan-angan bangsaku dengan budaya responsibilitas yang kuat.  Entah kapan terwujud, saya tidak tahu lagi.  Apakah Tuhan tau?

September 3, 2008 Posted by | Governance & Ethics | 3 Komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai