Wilmana, the Vehicle of Dewa

Pe milu pe ketena nerru, mola ta pe kako toi-Tegap berjalan maju, lurus menuju tujuan

Mama Ambel Risiko Berbohong

Soerang mama, pasti pernah berbohong. Apakah dia tidak tau berbohong itu, dosa?  Tida juga.  Tapi janga lupa bahwa setiap orang yang berbohong, tentu ada alesannya, termasuk mama.  Kalau kita bisa mengetahui hal ini, mungkin posisi kita terhadap Pelaku kebohongan bisa lebih wajar.  Cobalah simak kutipan catatan tentang daftar kebohongan yang lasim diperbuat mama berikut alasan yang mendasari beliau nekat melakukan perbuatan terlarang ini. Kutipan ini beta ambil dari postingan seorang sahabat di milis GPIB.

Saat makan, jika makanan kurang, mama akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, “Cepatlah makan, mama tdk lapar.”

Saat makan, mama selalu menyisihkan ikan dan daging untuk anaknya dan berkata, “mama engga suka ini, makanlah, nak..”

Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, mama berkata, “Istirahatlah nak, mama masih belum ngantuk..”

Saat anak sudah tamat sekolah, bekerja, dan mengirimkan uang untuk mama. Ia berkata, “Simpanlah untuk keperluanmu nak, mama masih punya uang.”

Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, mama lantas berkata, “Rumah tua kita sangat nyaman, mama tidak terbiasa tinggal di sini.”

Saat menjelang tua, mama sakit keras dan si anak menangisinya, tetapi mama masih tersenyum sambil berkata, “Jangan menangis nak, mama tidak apa apa.”

 

Ini contoh bukan untuk pembenaran terhadap praktek kebohongan apalagi kebohongan publik yang marak dipraktekkan oleh aparat negara kita, baik itu Eskekutif, Legislatif, maupun Yudikatif.  Kebohongan, apapun bentuknya, tetaplah merupakan perilaku yang tidak pantas dan tidak patut ditiru, bahkan di level tertentu kebohongan dapat dianggap perbuatan melawan hukum.

Kutipan ini sekedar untuk mengingatkan kita bahwa disaat kita harus mengambil sikap terhadap suatu kebohongan, kita perlu mengetahui apa saja yang mendasari perbuatan tersebut, agar keputusan kita untuk bersikap terhadap Pelaku kebohongan tersebut, bisa lebih wajar (fair).

Juli 9, 2011 Posted by | Words of Wisdom | 2 Komentar

Menjawab Buku “Mustahil Kristen Bisa Menjawab” (II)

Melihat tulisan terdahulu yang ternyata belakangan mendapat respon yang ramai, maka saya tergugah untuk melanjutkan tanggapan atas tulisan Bapak H. Insan LS Mokoginta, yang selanjutnya saya sebut saja Pak Haji, MUSTAHIL KRISTEN BISA MENJAWAB.  Pada tulisan terdahulu, pertanyaan pertama dan kedua sudah saya jawab.  Berikut ini adalah jawaban untuk pertanyaan ke-tiga dan ke-empat.  Selamat menikmati!

Pertanyaan ke-3: Pernahkah Yesus Mengatakan: “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja”

Menurut pak Haji, pertanyaan ini timbul karena beliau tidak pernah menemukan dalam Alkitab adanya kata-kata Yesus, “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja”.  Setelah membaca lebih jauh uraian latar belakang pertanyaan Pak Haji, rupanya dengan pertanyaan ini beliau ingin menunjukkan bahwa gelar Tuhan yang kristen berikan kepada Yesus adalah kesesatan.  Ukuran yang beliau pakai ada dua, yaitu ayat Alkitab (Mat 4:8-10) dan ayat Quran: Innallaaha huwa rabbii wa rabbukumfa`buduuhu haadzaa shiraathum mustaqiim yang artinya “Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, inilah jalan yang lurus.“.  Sayangnya, Pak haji tidak menginformasikan dari surat mana kalimat ini beliau kutip.

Sidang pembaca yang saya kasihi, jika menyimak uraian di atas, maka jelaslah bahwa tuntutan pak Haji untuk menunjukkan keberadaan perkataan Yesus, “Akulah Allah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja”, tidak mungkin dipenuhi.  Sampai di sini, klaim pak Haji bahwa mustahil kristen bisa menjawab, tentu tercapai sudah.  Tapi apakah cukup sampai di sini?  Saya kira tidak.  Karena yang penting untuk ditanggapi adalah substansi dari pertanyaan pak Haji yaitu, penolakan terhadap ketuhanan Yesus.  Karena itu, saya pengin menyampaikan tanggapan saya sebagai berikut.

Ketuhanan Yesus

Kepercayaan orang kristen bahwa Yesus adalah Tuhan tentu didasarkan pada kitab suci mereka, Alkitab atau Bible (dari bahasa Yunani: biblia artinya kumpulan kitab).  Di dalam Alkitab terdapat doktrin tentang inkarnasi yaitu ajaran bahwa Allah berkenan menjelmakan diri-Nya dalam rupa manusia.  Manusia itu bernama Yesus.  Sebagai jelmaan Allah, maka orang kristen yakin bahwa Yesus layak disapa Tuhan.  Yesus sendiri ketika masih berada di dunia, banyak menunjukkan tanda-tanda yang membuktikan bahwa Dia memang jelmaan Allah.  Bahkan para murid Yesus mencatat bahwa setelah melihat tanda-tanda keilahian dari Yesus, maka banyak orang kemudian menyapa Yesus dengan sebutan: Tuhan (bc: Mat 27:54; Mrk 15:39; Yoh 20:28; dll.), yang pada saat itu artinya orang yang padanya berdiam kuasa ilahi.

Frasa “Allah menjelma menjadi manusia” di sini perlu diperhatikan agar tidak dipahami secara kamus semata, karena tidak berarti Allah berubah wujud, sebab Allah tidak pernah berubah, Dia tetap Dia dari dulu sekarang dan selamanya.  Jika kucing menjelma menjadi gajah, maka kucingnya hilang berganti dengan gajah.  “Menjelma” di sini bermakna Allah berkehendak menjadikan bagian dari diri-Nya yaitu Firman-Nya ke dalam diri manusia Yesus.  Kita tahu bahwa Sabda Allah mengandung kuasa yang luar biasa besarnya, tidak saja mencakup langit-bumi dan segala isinya, tapi juga kuasa atas segala yang ada di surga (bnd Mat 28:18).  Karena itu orang kristen percaya betul bahwa Yesus, firman Allah yang hidup itu, memang layak disapa Tuhan.

Pertanyaannya, mengapa Yesus meminta pengikut-Nya untuk hanya menyembah Bapa-Nya saja?  Sederhana saja.  Menurut Yohanes, Yesus adalah jelmaan dari Firman Allah (Yoh 1:14).  Atas dasar ini, orang kristen lalu menyapa Yesus sebagai Firman Allah yang hidup.  Sebagai jelmaan Firman Allah, Yesus tahu bahwa diri-Nya bukanlah yang empunya Firman.  Yang empunya Firman adalah Bapa, sang Pencipta.  Karena itu, wajar jika Yesus meminta pengikut-Nya untuk menyembah Bapa saja.  Analoginya begini, perintah Kaisar memang memiliki kekuatan memaksa bagi rakyat untuk wajib melaksanakannya.  Namun, tunduknya rakyat di sini, sesungguhnya bukan kepada perintah tersebut, tetapi kepada Kaisar.  Perintah itu tidak memiliki kuasa memaksa rakyat jika perintah tersebut bukan milik oleh Kaisar.  Jadi, dengan permintaan di atas, Yesus bermaksud meluruskan bahwa jika umat mau menyembah jangan kepada siapa-siapa, kecuali kepada Allah saja.

Alasan lain adalah, meski Yesus adalah Firman Allah yg hidup, namun Dia adalah manusia juga.  Karena itu tidak pada tempatnya jika para pengikut-Nya kemudian menyembah sosok manusia Yesus.  Lho, kalo begitu mengapa orang kristen tetap saja menyembah Yesus?  Saya kira hal yang wajar saja ketika kita menemui orang yang memiliki kuasa besar, misalnya, Raja atau Kaisar, lalu menyembahnya.  Mungkin ada juga yang bersangsi bahwa Yesus kan disembah bukan sekedar sebagai Raja/Kaisar, tapi sebagai Tuhan.  Hal inipun dapat dijelaskan.  Bahwa setelah Yesus naik ke surga, Dia kembali kepada kemulian-Nya sebagai Firman Allah, yang menurut Yohanes adalah Allah itu sendiri (bnd Yoh 1:1-3).  Keberadaan Yesus dalam kodrat kemuliaan ilahinya pernah ditunjukkan kepada Daniel (bc Dan 7:13-14).  Yesus dalam kemuliaan sorgawi-Nya inilah yang disembah kristen sebagai Tuhannya.

Pertanyaan ke-4: Pernahkah Yesus Mengatakan: “Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya”

Lama-lama saya merasa lucu karena pertanyaan-pertanyaan Pak Haji kok seperti akal-akalan saja.  Kenapa? Karena pada dasarnya orang kristen kalau di suruh menunjukkan kata-kata Yesus, “Akulah yang mewahyukan Alkitab, Aku pula yang menjaganya”, tentu sampe kucing keluar tandukpun engga bakal ketemu.  So, Rp 10 juta yang beliau janjikan pun bakal tetap aman dalam pundi-pundi beliau.  Namun, apakah dengan demikian semua klaim beliau terkait pertanyaan ini dapat diterima begitu saja? Sekali lagi, tidak dong!  Substansi pertanyaan pak Haji di atas adalah penolakan terhadap Alkitab sebagai suatu kitab suci.  Ukuran yang beliau pakai adalah beberapa ayat Quran misalnya Q.s. 13:1; 14:1; 15:9.

Hal pertama yang spontan muncul di benak saya, jika ukuran yang pak Haji pakai untuk menilai kesucian kitab suci agama kristen adalah kitab sucinya sendiri yaitu Al Quran, adalah pak Haji seperti sedang mengukur suhu badan pake penggaris, bukan termometer.  Pengukuran model begini dapat disebut pengukuran secara subyektif, pake ukuran sendiri. Dan karena itu hasilnya bisa meleset jauh dari kebenaran.

Menurut saya, untuk menilai kesucian kitab suci, gunakan saja ukuran-ukuran yang terdapat dalam kitab suci itu sendiri.  Bukan dengan menggunakan ukuran kesucian dari kitab suci agama lain.  Misalnya, jika kitab suci menyebutkan bahwa isinya 100% kata-kata Allah sendiri, maka pake saja ukuran ini untuk menilai akurasi stetmen tersebut.  Apakah faktanya memang benar begitu, ataukah stetmen itu hanyalah klaim dari orang yang mengaku menerima wahyu dari Allah.

Hal kedua, orang kristen percaya bahwa Alkitab berintikan firman Allah.  Artinya kitab suci mereka bukanlah 100% kata-kata Allah semua, karena faktanya memang kitab-kitab dalam Alkitab adalah tulisan tangan manusia yang berkali-kali disalin kembali agar dapat digunakan turun-temurun.  Namun, orang kristen percaya bahwa dibalik tulisan tangan manusia itu, tersembunyi pesan-pesan ilahi yang berguna sebagai petunjuk mengenai eksistensi Tuhan dan karya-Nya, nasehat, teguran, perintah, dll.  Inilah ukuran kesucian kitab suci, yang berlaku bagi Alkitab.  Apakah benar, dibalik tulisan-tulisan manusia itu terdapat pesan-pesan ilahi bagi umat manusia?   Apakah pesan-pesan ilahi itu benar-benar dapat digunakan untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (bnd 2Tim 3:16)?  Jika tidak, maka klaim kristen mengenai Alkitab bakal runtuh dengan sendirinya.

Wah, rasanya cukup dulu tanggapan saya.  Semoga berkenan bagi para sahabat pembaca semua.

November 24, 2009 Posted by | Apologetika | 36 Komentar

WAJAH YESUS DI TIMUR

Saya menggunakan judul diatas semata-mata karena saya tertarik akan topik mengenai teologi kontekstual. Suatu cabang teologi kristen yang mencoba menjawab pertanyaan mengapa kekristenan masih sulit diterima dan berkembang ditengah-tengah masyarakat Timur (Asia). Padahal masyarakat Timur memiliki sejarah latar belakang spiritualitas yang lebih menyadari dan mengakui keberadaan kuasa Tuhan. Oleh karena itulah agama-agama samawi berasal dari Timur.

Masalah kontekstualisasi pemahaman iman kristen ini telah menjadi isu yang semakin hari semakin ramai dibicarakan dan dipergumulkan. Hal ini menarik karena kekristenan sesungguhnya berasal dari Timur (Asia) tetapi justru orang Timur lebih mengenal kekristenan melalui pemberitaan orang Barat. Demikian juga dengan peletak dasar-dasar ajaran kristen yaitu Yesus, adalah orang Timur, tetapi sekarang orang Timur mengenal Yesus dalam rupa orang Barat.

Bukan berarti bahwa gerakan penginjilan yang dilakukan oleh para pemimpin gereja mula-mula terlalu memfokuskan diri ke arah jalur Barat, dan mengabaikan jalur ke Timur, tetapi menurut catatan sejarah, penginjilan kearah Timur yang sudah dirintis oleh Rasul Thomas dan kawan-kawan waktu itu terhenti gara-gara invasi gerakan Islam yang memang lebih memfokuskan diri ke Timur. Akibatnya harus diakui bahwa kekristenan akhirnya memang lebih berkembang di Barat daripada di Timur. Teologi Kristen telah mengalami perkembangan yang luar biasa pesat di Barat. Bahkan boleh dikata, nilai-nilai kristen telah menjadi sokoguru perkembangan nilai-nilai budaya Barat hingga saat ini. Demikian hebatnya asimilasi nilai-nilai itu, sehingga ada saat dimana nilai-nilai budaya Barat seolah-olah sama dengan nilai-nilai kristiani, atau sebaliknya. Hal ini dikemudian hari, oleh gerakan Islam dijadikan sebagai salah satu isu penting untuk menekan gerakan kristen di wilayah-wilayah yang sudah dikuasainya. Contohnya di Indonesia, hingga saat ini masyarakat muslim mudah diprovokasi dengan isu bahwa Barat identik dengan kristen.

Kekristenan yang identik dengan nilai-nilai Barat inilah yang coba dibawa kembali ke Timur oleh para penginjil-penginjil Barat, yang kebanyakan membonceng pada gerakan invasi (imperialisme) Barat. Sayangnya kekristenan ala Barat ini mengalami kesulitan yang tidak sedikit dalam perkembangannya di Timur. Persoalan yang dihadapi antara lain oleh karena keterkaitannya dengan imperialisme Barat, dan terutama oleh karena masalah benturan budaya.

Masalah benturan budaya merupakan masalah utama karena pada prinsipnya ada perbedaan nilai-nilai budaya yang khas antara Timur dan Barat. Budaya dimaksud bukanlah secara sempit dalam arti adat kebiasaan saja, tetapi juga mencakup pola pikir, sudut pandangnya, kecenderungan emosional, dan sebagainya. Nilai-nilai kristen yang dibawa oleh penginjil-penginjil Barat, yang aslinya berasal dari Timur ternyata telah mengalami perubahan yang signifikan dimana telah terasimilasi dan terbungkus rapat dengan nilai-nilai budaya Barat. Akibatnya, nilai-nilai kristiani yang seperti ini sangat sulit untuk dipahami dan lalu diterima oleh orang Timur dengan sepenuh pengertian (jelas) dan sepenuh hati. Nilai-nilai kristen yang aslinya produk Timur ini telah berubah sehingga lalu dipandang oleh orang Timur sendiri sebagai suatu tatanan nilai yang baru (mungkin lebih tepat asing) yang mau mengganti apa yang telah ada. Ini jelas keliru.

Dari sudut pandang para penginjil Barat (termasuk juga penginjil-penginjil Timur hasil didikan Barat), nilai-nilai kristen yang mereka ajarkan itulah yang baik karena telah teruji melalui suatu perjalanan sejarah pergumulan yang panjang. Itulah tatanan nilai kristiani yang paling cocok untuk diterapkan di Timur sebagai ganti nilai-nilai Timur yang dianggap cenderung sinkretis. Apa lagi gerakan penginjilan Barat ke Timur ini dipicu oleh ajaran Pietisme yang cenderung melindungi nilai-nilai kristiani Barat dari kemungkinan asimilasi dengan nilai-nilai lainnya.

Pietisme memang telah berhasil menimbulkan semangat penginjilan Barat ke berbagai belahan dunia, tetapi juga gerakan pemurnian ajaran-ajaran kristen yang dianutnya telah menyebabkan tatanan nilai-nilai kristen Barat ini begitu tertutup bahkan seringkali terasa kejam terhadap nilai-nilai budaya masyarakat Timur. Oleh karena itu, jika kita menelusuri sejarah penginjilan Barat di Indonesia kita akan menemukan begitu banyak konflik dengan tatanan nilai-nilai asli masyarakat Indonesia. Para penginjil Barat penganut paham Pietisme mengajarkan bahwa sistem kepercayaan yang ada ditengah-tengah masyarakat adalah sinkretis bahkan tidak mengenal Tuhan (kafir) dan karena itu harus diganti dengan tata nilai kristen Barat, jika mau selamat.

Di lain pihak, sebagaimana lazimnya, masyarakat justru merasa tersinggung dengan tuduhan seperti itu, karena selama ratusan bahkan ribuan tahun mereka hidup “selamat” dengan cara-cara yang dianggap bisa mendatangkan keselamatan bagi mereka. Kondisi pertentangan diatas telah menimbulkan konflik dan penolakan yang besar terhadap kekristenan di Indonesia. Kalaupun ada kelompok masyarakat yang bisa menerima ajaran para penginjil Barat tersebut, maka penerimaan mereka itu, hanyalah bersifat simbolis formalis. Oleh karena itu, kita tidak kaget jika sampai saat ini orang kristen di Indonesia menjalani kehidupan yang kontras. Disatu sisi mereka menerima ajaran kristen Barat tetapi di lain sisi mereka hidup dengan pola yang dikutuk oleh kekristenan Barat tersebut. Ada juga memang yang menerima ajaran kristen Barat dan menerapkannya dalam hidup dengan sungguh-sungguh lalu ikut mengutuk pola hidup masyarakatnya.

Hal diatas, dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa “Yesus” yang orang Asia (Timur), oleh karena suatu hal lalu dibawa ke Barat. Setelah sekian lama disana ia lalu kembali ke Timur dengan rupa orang Barat dan lalu berupaya merubah semua orang Timur agar menjadi sama seperti dia yang kebarat-baratan. Bagi para teolog Timur, kondisi ini keliru dan harus diluruskan. Ajaran Kristus yang dibungkus dengan tata nilai budaya Barat tidak bisa diklaim sebagai satu-satunya kebenaran, dan oleh karena itu tidak harus diterima dan dijalani oleh setiap orang dikolong langit ini, termasuk masyarakat Timur. Ajaran Kristus adalah bersifat universal dan oleh karena itu bebas dianut oleh setiap masyarakat menurut tata nilai budayanya guna membantu mereka menghadirkan kerajaan Allah yang penuh damai sejahtera ditengah-tengah mereka.

Tulisan ini ingin membahas beberapa pertanyaan sentral yang muncul yaitu:
Pertama, mungkinkah kekristenan di Timur berkembang dan membentuk suatu budaya kristiani yang sesuai dengan tata nilai ketimuran?

Pertanyaan ini perlu dijawab untuk menggugah hati orang-orang kristen di Timur bahwa ajaran kristus adalah ajaran yang bersifat universal yang dapat diadopsi oleh kelompok masyarakat manapun (baik di Barat maupun di Timur untuk memperkaya sistem nilai spiritual yang sudah ada sekaligus mengarahkan aktifitas-aktifitas ritual keagamaan kepada tujuan yang benar.
Kedua, adakah faktor-faktor pendorong proses asimilasi nilai-nilai budaya Timur dengan ajaran Kristus menuju kepada terbentuknya budaya kristiani di Timur?

Pertanyaan ini layak dikemukakan karena apapun alasannya jika ada upaya penyebaran ajaran Yesus di Timur tentu akan terjadi pertemuan antara nilai-nilai yang diajarkan Yesus dengan sistem nilai yang sudah ada ditengah-tengah masyarakat, lalu terjadilah proses asimilasi. Agar proses asimilasi ini berjalan dengan konflik minimal maka tentu harus ditemukan faktor-faktor pendukung yang dapat mendorong terciptanya iklim yang kondusif bagi proses tersebut.

3.
(Bersambung tapi entah kapan)

April 22, 2009 Posted by | Iman Kristen dan Prakteknya | 3 Komentar

Di Langit Mama Bersua Kekasihnya

Di langit Dia Bertemu sang Kekasih

=0=

Rabu, 30 April 2008 aku bertanya…

Oma pergi menyusul di langit sana hanya dua minggu setelah Opa pergi…

Mama kira-kira bisa bertahan berapa lama?

Jawabannya hanya SENYUM……. penuh arti…

=o=

1 Desember 2008, dia datang…

“Mau natalan di Jawa”, begitu kira-kira  jawabnya

25 Desember 2008, datanglah natal yang dinanti

Dinanti di bangsal E kamar no 5 RS PGI Cikini

Bukan cuma natal di situ, tp juga melewati 2008 dan memasuki 2009

-0-

Apakah ini malapetaka atau berkah, siapa yang tau?

2 Januari 2009 pukul 08.42 dia memilih jejak Oma…

Menyusul Papa yang sudah menanti sejak 23 April 2008

Di langit sana…

-o-

Dia orang Jawa bilang, “Aku ketiban  pulung”

Ya ketiban pulung…. karena masih ada begitu banyak

kekecewaan

harapan

uneg-uneg

tak tersampaikan di antara kami…

-o-

Ketika mereka bersyair, “Bunda kata mereka diriku selalu ditimang, diriku selalu dimanja”

Siapa menimang dan memanjakanku?

Ketika dia bernyanyi, “hutang satu tetes air susu mama”

Pada siapa aku berhutang?

Wahai yang punya nama Ligkungan

Dikau memang tidak memandang bulu

Dikau memang tak berperasaan

Teganya kau pisahkan aku dr Bundaku

-o-

Sama juga saat pagi 2 Januari itu….

Sakit penyakit

“multi organ failure”, kata dokter

Memberi jalan Mama pergi menyusul Papa

di langit sana

Penyakit, dikau memang tak punya perasaan

-o-

Tapi

Biarlah sejuta asa-kecewa-uneg2 terkubur bersama jasadnya, atau

Kelak akan kusampaikan nanti

Ketika dia berkunjung dalam mimpi-mimpiku

-o-

Sekarang

Pergilah dikau, Mama, dalam damai sejahtera

Sambutlah uluran tangan kekasihmu

Ikutlah dalam barisan para Kudus

Memuji dan memuliakan Dia sang Juruselamat

Menjadi malaikat bagiku selalu

Yaa… selalu…

-o-

Medio Januari 2009

Januari 15, 2009 Posted by | My Family Affairs | 3 Komentar

Menjawab Buku “Mustahil Kristen Bisa Menjawab” (I)

Para Pembaca yang terhormat, kemarin wkt jalan-jalan ke situs http://www.dimhad.co.cc/, sy ketemu e-book yang menarik perhatian. Cover e-Book menyebutkan bahwa penulisnya H. Insan L.S. Mokoginta, selanjutnya saya sebut saja Pak Haji. Yang bikin penasaran adalah, beliau ada bikin 11 pertanyaan dan yakin bahwa orang kristen tidak bisa menjawab. Bahkan saking yakinnya, beliau menjanjikan hadiah Rp. 10 juta per pertanyaan, malah untuk pertanyaan tentang kebangkitan Yesus, beliau mengiming-imingi sebuah mobil BMW sebagai hadiah. Luar biasa.  Apakah hadiah ini membuat saya bersemangat memberi jawab?

Tentu tidak. Jawaban saya semata-mata karena merasa terpanggil untuk mempertanggung jawabkan iman kristen saya, apalagi itu adalah hak saya sebagai orang yang beragama. Sayapun tidak bermaksud mengklaim jawaban saya sebagai kebenaran, karena ini tidak esensi bagi saya.  Karena itu, saya mempersilahkan para Pembaca sekalian yang berminat untuk ikut memberi jawaban, tanpa harus termotivasi oleh iming-iming hadiah yang dijanjikan.

Mana pengakuan Yesus di dalam Alkitab bahwa dia beragama Kristen?

Ini pertanyaan aneh bin ajaib karena para Bapa leluhur agama Yahudi mulai dari Abraham, Musa, sampai nabi Maleakhi dalam PL, tidak satupun yang mengaku beragama “Yahudi”.  Karena itu jawaban atas pertanyaan di atas, tidak lain adalah, Yesus tidak pernah bikin pengakuan dalam Alkitab bahwa Dia beragama Kristen.  Bahkan faktanya, Yesus sendiri penganut agama Yahudi.  Lalu bagaimana dengan para Pengikut-Nya?

Jejak catatan dalam Alkitab menunjukkan bahwa para Pengikut ajaran Yesus pada mulanya adalah semacam sekte baru dalam agama Yahudi.  Sekte ini menyebut diri dengan aliran Jalan Tuhan (bnd Kis 9:2, 13:10, 18:25, 22:4; 24:14).  Orang Yahudi sendiri menyebut kelompok ini sebagai sekte Orang Nasrani (bnd Kis 24:5).  Pada awalnya anggota sekte ini hanyalah kaum Yahudi, namun oleh karena keberadaannya di Yerusalem tidak disukai oleh para Pemimpin Agama Yahudi, maka berpencarlah mereka ke mana-mana dan mulailah mereka menerima anggota yang non-Yahudi yang makin lama makin banyak bahkan menjadi golongan yang mayoritas dalam keanggotaan sekte Yahudi ini.  Lalu, kapan sekte ini mendapatkan nama baru?

Dalam bukunya, Pak Haji menjawabnya dengan mengutip Kis 11:26b yaitu, “di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen”.  Pak Haji ada sedikit keliru karena mengatakan bahwa istilah “kristen” ini diberikan oleh Paulus dan Barnabas.  Makin keliru lagi ketika Pak Haji menyatakan dalam buku-nya bahwa Paulus dan Barnabaslah yang membentuk agama kristen.  Dari sini saya jadi mengerti, kenapa pertanyaan ini diajukan oleh Pak Haji.  Rupanya beliau ingin memberi pesan bahwa  orang kristen itu sebetulnya bukan pengikut Yesus, tapi pengikut Paulus dan Barnabas.

Saya tidak mempermasalahkan pesan Pak Haji ini, tapi ada baiknya mari kita melihat fakta-fakta yang ada, ketimbang berspekulasi.  Kesaksian Lukas mengenai Paulus ato yang dulunya bernama Saulus, dapat kita temukan dalam Kis 9:22 ini:

“Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias.”

Lebih menarik lagi kalo kita membaca pengakuan Paulus berikut ini:

Rom 1:1 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.

1Kor 1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, … .

2Tim 1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus, … .

Nah, dari kesaksian Lukas maupun pengakun Paulus sendiri, jelas bahwa Paulus sendiri adalah pengikut Yesus bahkan menjadi Rasul Pemberita Injil yang diajarkan Yesus Kristus.  Jadi, tidak masalah jika Pak Haji mau menyatakan bahwa orang kristen itu pengikut Paulus, Barnabas, Petrus, Yohanes, Matius atau siapapun. Yang penting bagi saya,  orang-orang tersebut mengakui dirinya sebagai pengikut dan penerus ajaran Yesus yaitu Injil Allah, ato tidak.

Mana ajaran Yesus ketika berumur 13 sampai 29 tahun?

Saya tidak bisa menduga-duga apa yang ada dibenak orang kristen lain ketika diperhadapkan dengan pertanyaan ini. Tapi saya pribadi sungguh merasa janggal dengan pertanyaan ini.  Karena bagi saya, ajaran-ajaran Yesus selama usia 30-33 tahun, yang disampaikan oleh para Rasul (murid Yesus) dalam kitab-kitab Injil maupun kitab-kitab lainnya dalam Perjanjian Baru (PB) sudah lebih dari cukup untuk meyakini kebenaran Allah tentang pengampunan dosa an keselamatan sorga-dunia dalam Yesus.  Perlu apa repot-repot mencari ajaran-ajaran Yesus  antara usia 13-29 tahun?

Tapi mari kita simak baik-baik apa sesungguhnya yang implisit dibalik pertanyaan di atas? Berikut ini adalah kutipan  argumen Pak Haji  mengenai pertanyaan ini:

Padahal pada usia 13 s/d 29 tahun merupakan usia Yesus ketika remaja menuju dewasa, dimana sudah barang tentu banyak sekali hal-hal atau peristiwa yang lebih berguna dan lebih besar yang mungkin saja beliau lakukan, tetapi tidak tercatat didalam Alkitab. Jadi sangatlah beralasan sekali bahwa Injil itu dikatakan tidak komplit atau sempurna, karena banyak bagian-bagian atau sisi-sisi lain yang pernah Yesus lakukan atau perbuat, tetapi tidak dicatat oleh para penulis Injl, karena kehilangan jejak atau kisahnya benar-benar hilang.

Aaah… Rupanya lewat pertanyaan ini, Pak Haji ingin meneruskan pesan Quran dalam Q.s. 2:75; 5:13-15, 41; dan 9:9, bahwa  ajaran Yesus dalam bentuk Kitab Injil sudah dipalsukan atau tidak sempurna ‘dicopy’ para murid-Nya untuk menjadi bahan pelajaran bagi orang kristen.

Meski jelas ini sebuah intervensi atas urusan intern agama lain, tapi saya sih tidak mempermasalahkan jika kitab suci  agama islam menyebutkan Kitab Injil milik nasrani seperti itu. Baru menjadi permasalahan jika klaim itu ada buktinya secara historis.  Tapi sukurlah karena hingga saat ini, secara historis tidak ada yang bisa membuktikan, termasuk para pakar agama islam sekalipun, bahwa Yesus pernah menulis atau menghasilkan suatu kitab bernama Injil, yang belakangan diklaim dalam Quran sebagai Injil asli.  Yang bisa dibuktikan secara historis, justru keberadaan kitab2 Injil karya para murid Yesus yang ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.  Ini berarti, orang boleh saja membuat klaim apapun, tapi  selama klaim tersebut tidak bisa dibuktikan, maka tentu sulit dijadikan pegangan, apalagi untuk diimani.

Hal lain adalah, jika ukuran yang digunakan adalah standar untuk sebuah buku biografi, maka saya setuju dengan pernyataan Pak Haji bahwa Kitab2 Injil karya para murid Yesus tidak komplit, karena hanya berupa penggalan-penggalan biografi Yesus.   Tetapi, jika ukurannya adalah kecukupan berita Injil yang disampaikan, maka buat saya sudah OK alias KOMPLIT.  Kenapa sudah komplit?

Pokok-pokok ajaran Yesus dapat ditemukan dalam Injil Matius.  Hukum Kasih yang menjadi sentral ajaran Yesus, sudah ada (bnd Mat 22:37-40).   Yang paling penting yaitu, Janji Keselamatan dari Yesus yang tidak dijanjikan oleh nabi manapun di kolong langit ini, sudah disebutkan dengan jelas (Yoh 14:6).  Kitab2 Injil, terutama Injil Lukas, dengan gamblang memberi kesaksian bagaimana Yesus mendemonstrasikan bahwa Dialah Anak Manusia, Anak Allah, Mesias, dan Juruselamat dunia yang dijanjikan Allah melalui nabi-nabi Yahudi.  Mulai dari orang sakit disembuhkan, orang buta dicelikkan matanya, orang lumpuh berjalan, setan yang merasuk pada manusia lari lintang pukang, kekuatan alam ditaklukan, sampai orang matipun dibangkitkan-Nya.  Bahkan Matius bersaksi bahwa Yesus sendiri berkata bahwa kepada-Nya telah diberikan segala Kuasa di surga maupun di bumi. Kuasa yang demikian besar ini, membuat Yesus memang layak disapa Tuhan.  Apalagi yang kurang?

Wah, waktu memang terbatas. Saya cukupkan sampai di sini dulu. Tapi saya janji, akan kembali untuk membahas pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Desember 17, 2008 Posted by | Apologetika | 103 Komentar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.